Anak Bekerja di Jalan, Dinsos Ungkap Penyebabnya
retroconference – Anak bekerja di jalan masih mudah ditemukan di persimpangan, kawasan pertokoan, stasiun, dan ruang publik perkotaan. Sebagian menjual tisu, mengamen, meminta uang, atau menawarkan jasa sederhana hingga malam hari.
Pemandangan tersebut sering memancing rasa iba. Namun, persoalannya ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar anak yang membutuhkan uang untuk membeli makanan.
Di balik aktivitas itu, terdapat masalah ekonomi, pola pengasuhan, kebiasaan keluarga, akses pendidikan, dan lingkungan sosial. Bahkan, sebagian anak kembali turun ke jalan setelah petugas melakukan penjangkauan.
Karena itu, penertiban saja tidak akan menyelesaikan masalah. Pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat perlu memutus penyebab yang terus mendorong anak bekerja di jalan.
Mengapa Anak Bekerja di Jalan Terus Ditemukan?
Petugas sosial dapat membawa seorang anak meninggalkan lokasi jalanan untuk sementara. Meskipun demikian, anak tersebut berpotensi kembali apabila situasi di rumah tidak berubah.
Kondisi itu menunjukkan bahwa jalanan hanya menjadi bagian yang terlihat. Sementara itu, akar persoalan sering berada di lingkungan keluarga dan tempat tinggal anak.
Tekanan ekonomi menjadi salah satu faktor utama. Ketika penghasilan orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar, keluarga dapat melihat anak sebagai tambahan tenaga pencari uang.
Selain itu, sebagian orang tua menganggap aktivitas tersebut sebagai hal biasa. Mereka mungkin menilai berjualan, mengamen, atau meminta bantuan di jalan sebagai cara anak belajar mandiri.
Pandangan seperti itu mengabaikan risiko yang dihadapi anak. Jalan raya bukan tempat kerja yang aman, terlebih bagi anak yang masih membutuhkan pendidikan, waktu bermain, perlindungan, dan istirahat.
KPAI pernah mengidentifikasi beberapa keadaan yang mendorong anak turun ke jalan. Di antaranya ialah eksploitasi, kebutuhan untuk menyambung hidup, pengaruh teman sebaya, serta kebiasaan yang akhirnya dianggap sebagai pekerjaan.
Dengan demikian, tidak semua anak berada di jalan karena alasan yang sama. Petugas harus melakukan asesmen untuk memahami kondisi setiap anak dan keluarganya.
Faktor Ekonomi Bukan Satu-satunya Penyebab
Kemiskinan memang memegang peran besar. Namun, menyimpulkan bahwa seluruh persoalan muncul karena kekurangan uang juga terlalu sederhana.
Hasil pengawasan KPAI mengenai pekerja anak pernah mencatat sejumlah tantangan. Masalah tersebut mencakup ekonomi keluarga, pendidikan yang terabaikan, lemahnya ketahanan keluarga, budaya memberi di jalan, serta anggapan orang tua bahwa anak bekerja bukan masalah.
Temuan itu memperlihatkan hubungan antara beberapa faktor. Oleh sebab itu, pemerintah tidak dapat mengatasi masalah ini hanya melalui satu program.
1. Tekanan ekonomi keluarga
Sebagian anak bekerja untuk membantu membeli makanan, membayar tempat tinggal, atau menambah penghasilan harian keluarga. Dalam kondisi tertentu, orang tua bahkan ikut menentukan lokasi dan waktu anak mencari uang.
Pendapatan dari jalanan mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, uang yang terkumpul setiap hari dapat membuat keluarga bergantung pada aktivitas anak.
Ketergantungan tersebut kemudian menciptakan lingkaran berulang. Anak tetap bekerja karena keluarga telah memasukkan penghasilannya ke dalam kebutuhan rumah tangga.
2. Pengasuhan yang kurang kuat
Keluarga seharusnya menjadi tempat utama yang melindungi anak. Sayangnya, konflik rumah tangga, penelantaran, kekerasan, atau lemahnya pengawasan dapat mendorong anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
KPAI menilai kerentanan keluarga berhubungan dengan berbagai persoalan anak, termasuk anak yang berada di jalan, mengalami eksploitasi, ditelantarkan, atau diperdagangkan. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga perlu menjadi dasar perlindungan anak.
Selain memberikan bantuan, pendamping perlu membantu orang tua memperbaiki cara mengasuh anak. Langkah tersebut penting agar perubahan bertahan dalam jangka panjang.
3. Pendidikan yang terganggu
Anak yang sering bekerja berisiko datang terlambat, kehilangan konsentrasi, atau tidak masuk sekolah. Bahkan, beberapa anak akhirnya berhenti belajar karena lebih terbiasa memperoleh uang dari jalanan.
Di sisi lain, anak yang sudah putus sekolah juga mempunyai lebih banyak waktu untuk berada di ruang publik. Akibatnya, peluang mereka kembali bekerja semakin besar.
Sekolah perlu mengenali tanda awal masalah tersebut. Guru dapat berkomunikasi dengan keluarga ketika seorang murid sering absen, terlihat kelelahan, atau mengalami perubahan perilaku.
4. Pengaruh lingkungan dan teman sebaya
Seorang anak dapat mulai turun ke jalan setelah melihat teman di lingkungannya memperoleh uang. Aktivitas tersebut tampak mudah karena tidak memerlukan modal besar maupun kemampuan khusus.
Selanjutnya, anak dapat membentuk kelompok dan menentukan lokasi bersama. Rasa kebersamaan membuat mereka merasa nyaman, meskipun lingkungan jalanan menyimpan banyak risiko.
Oleh karena itu, pemerintah perlu menyediakan kegiatan alternatif. Ruang belajar, olahraga, pelatihan keterampilan, dan aktivitas komunitas dapat mengurangi waktu anak di jalan.
5. Budaya memberi uang di jalan
Niat membantu tentu muncul dari rasa empati. Namun, pemberian uang secara langsung dapat mempertahankan aktivitas yang menempatkan anak di ruang berbahaya.
KPAI pernah mengingatkan bahwa pemberian uang kepada anak yang meminta-minta di jalan dapat melanggengkan eksploitasi. Lembaga tersebut menyarankan masyarakat menyalurkan bantuan melalui lembaga sosial atau saluran yang lebih tepat.
Meskipun demikian, masyarakat tidak perlu kehilangan kepedulian. Warga tetap dapat membantu melalui layanan sosial, rumah singgah, lembaga perlindungan anak, atau organisasi yang memiliki program pendampingan.
Risiko yang Mengintai Anak Bekerja di Jalan
Anak bekerja di jalan menghadapi bahaya yang sering tidak terlihat oleh pengguna jalan. Risiko tersebut dapat muncul dari kendaraan, cuaca, kekerasan, hingga orang dewasa yang ingin mengambil keuntungan.
Mereka juga dapat bekerja hingga larut malam. Akibatnya, waktu tidur, belajar, dan bermain menjadi berkurang.
Berikut beberapa risiko utama yang perlu mendapat perhatian:
- Kecelakaan lalu lintas.
- Kekerasan fisik dan verbal.
- Pelecehan atau eksploitasi seksual.
- Paparan asap kendaraan dan cuaca buruk.
- Putus sekolah.
- Pemerasan oleh orang dewasa.
- Perdagangan orang.
- Penggunaan narkoba atau zat berbahaya.
- Gangguan kesehatan dan kekurangan gizi.
- Hilangnya waktu bermain dan berkembang.
Anak jalanan juga mudah dipengaruhi karena berada dalam posisi rentan. KPAI pernah menyoroti faktor ekonomi dan kurangnya bimbingan keluarga sebagai kondisi yang dapat meningkatkan risiko eksploitasi.
Terlebih lagi, pelaku dapat menawarkan uang, barang, pekerjaan, atau kesenangan sesaat. Anak yang belum mampu menilai risiko secara matang mungkin menerima tawaran tersebut.
Penertiban Anak Bekerja di Jalan Belum Cukup
Operasi penjangkauan tetap penting untuk melindungi anak dari bahaya langsung. Petugas dapat membawa anak ke tempat aman, mencatat identitasnya, lalu mencari orang tua atau wali.
Namun demikian, proses tersebut tidak boleh berhenti setelah anak pulang. Tanpa pendampingan lanjutan, faktor pendorongnya akan tetap ada.
Pendekatan yang hanya berfokus pada penertiban cenderung menghasilkan perubahan sementara. Sejumlah kajian juga menilai penanganan jangka pendek belum tentu menyentuh kondisi ekonomi keluarga dan masalah akses pendidikan.
Karena itu, petugas perlu membuat rencana berdasarkan hasil asesmen. Setiap keluarga mempunyai kebutuhan dan tingkat kerentanan yang berbeda.
Sebagai contoh, keluarga yang kehilangan sumber penghasilan memerlukan dukungan ekonomi. Sementara itu, keluarga dengan masalah pengasuhan membutuhkan konseling dan pemantauan.
Anak yang putus sekolah juga memerlukan jalur kembali ke pendidikan. Jika sekolah formal tidak memungkinkan, pemerintah dapat menghubungkannya dengan program pendidikan alternatif yang sesuai.
Solusi untuk Memutus Siklus Anak Bekerja di Jalan
Penanganan harus memusatkan perhatian pada kepentingan terbaik bagi anak. Selain melindungi mereka dari bahaya, program pemerintah perlu memulihkan hak pendidikan, kesehatan, identitas, dan pengasuhan.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Asesmen anak dan keluarga
Petugas perlu mengetahui alasan anak turun ke jalan. Mereka juga harus memeriksa kondisi rumah, pendapatan keluarga, pendidikan, dokumen kependudukan, dan pola pengasuhan.
Melalui asesmen tersebut, pemerintah dapat menentukan bentuk bantuan yang tepat. Dengan begitu, program tidak sekadar menyamaratakan seluruh kasus.
Pendampingan berkelanjutan
Perubahan perilaku membutuhkan waktu. Oleh sebab itu, pekerja sosial perlu melakukan kunjungan rutin dan mengevaluasi perkembangan keluarga.
Pendamping juga dapat bekerja sama dengan pengurus lingkungan, sekolah, pusat kesehatan, dan organisasi masyarakat. Kolaborasi tersebut akan memperkuat pengawasan sekaligus mencegah anak kembali ke jalan.
Penguatan ekonomi orang tua
Bantuan tunai dapat meringankan kebutuhan mendesak. Akan tetapi, keluarga juga memerlukan jalan untuk memperoleh penghasilan yang lebih stabil.
Pelatihan kerja, akses usaha, bantuan alat, penempatan kerja, dan pendampingan usaha kecil dapat menjadi pilihan. Selanjutnya, petugas perlu memastikan program tersebut sesuai dengan kemampuan orang tua.
DKI Jakarta, misalnya, memiliki bantuan pemenuhan kebutuhan dasar yang mencakup Kartu Anak Jakarta. Pada penyaluran Juni 2026, Dinas Sosial DKI menyatakan bantuan PKD menjangkau 215.034 penerima manfaat dari program anak, lansia, dan penyandang disabilitas setelah proses verifikasi data.
Meski begitu, bantuan sosial bukan satu-satunya jawaban. Pemerintah tetap perlu menggabungkannya dengan pendidikan, pekerjaan, pengasuhan, dan perlindungan anak.
Mengembalikan anak ke pendidikan
Sekolah dapat menjadi benteng penting bagi anak rentan. Selain memberikan pengetahuan, sekolah menghadirkan lingkungan teratur dan jaringan perlindungan.
Pemerintah perlu mengatasi hambatan seperti biaya transportasi, dokumen, seragam, perlengkapan, dan ketertinggalan pelajaran. Setelah itu, guru dan pendamping perlu memantau kehadiran anak.
Menindak pelaku eksploitasi
Tidak semua anak turun ke jalan atas keputusan sendiri. Dalam beberapa kasus, orang dewasa menyuruh, memaksa, atau mengambil penghasilan mereka.
Aparat perlu menindak pihak yang mengeksploitasi anak secara ekonomi. KPAI juga menekankan pentingnya pendekatan hukum yang berjalan bersama pendidikan dan pemberdayaan agar kasus tidak terus berulang.
Apa yang Dapat Dilakukan Masyarakat?
Masyarakat memegang peran penting dalam memutus siklus anak bekerja di jalan. Namun, bantuan perlu diberikan melalui cara yang aman dan tidak memperkuat eksploitasi.
Pertama, hindari langsung menuduh atau memarahi anak. Mereka mungkin berada di bawah tekanan orang dewasa atau menghadapi kondisi keluarga yang berat.
Kedua, laporkan situasi berisiko kepada dinas sosial, kepolisian, petugas perlindungan anak, atau layanan resmi pemerintah daerah. Sertakan lokasi dan ciri yang jelas tanpa menyebarkan identitas anak di media sosial.
Ketiga, salurkan bantuan melalui lembaga kredibel. Cara tersebut memungkinkan bantuan menjangkau kebutuhan pendidikan, makanan, kesehatan, dan pendampingan keluarga.
Terakhir, jangan mengunggah wajah atau informasi pribadi anak secara sembarangan. Perlindungan identitas tetap penting agar anak tidak mengalami stigma maupun risiko tambahan.
Kesimpulan
Fenomena anak bekerja di jalan tidak lahir dari satu penyebab. Tekanan ekonomi, masalah pengasuhan, pendidikan yang terganggu, pengaruh lingkungan, dan kebiasaan memberi uang di jalan saling berkaitan.
Oleh karena itu, penanganan tidak cukup mengandalkan razia atau penertiban. Pemerintah perlu memperkuat keluarga, mengembalikan anak ke sekolah, membuka akses penghasilan bagi orang tua, dan menindak pelaku eksploitasi.

